Tuesday, March 2, 2021

11:36 PM - No comments

Menikmati Bahagia

Bertelanjang kaki di atas tanah-tanah kering ladang kopi milik Bapak,
aku menyaksikannya: tertawa
Menikmati terik baskara dengan peluh menetes sampai dada
Berkejaran saling tangkap tanpa beban di kepala: bahagia

Bertelanjang dada di bawah rinai hujan pada tanah lapang dekat kantor desa,
aku memastikannya: betah
Berlarian saling rebut bola dari kaki-kaki kecil yang bergerak lincah tanpa masalah
Tak peduli basah
Terengah-engah

Di sini aku diam,
menyaksikan mereka dalam tawa yang tak kunjung padam
Pesanku tak banyak,
nikmatilah hidup sebagai anak-anak, 
karena dewasa tak seindah dalam benak

Bandar Lampung, 22 September 2019
Sofia Octaviana

Sunday, February 28, 2021

5:41 PM - No comments

Dari Balik Layar Kaca

Ingar bingar dari Aceh hingga Papua
Pun dari Selatan sampai Utara

Aku hanya menyimak dari balik layar kaca
Menikmati penyampaian pewarta berjas rapi di balik meja
Pesta Demokrasi, katanya!
Selebaran, stiker, baliho, terpasang di mana-mana
Wajah-wajah berjilbab dan berpeci terpampang di spanduk-spanduk raksasa

Untuk Indonesia lebih baik!
Satu pilihanmu sangat berarti!
Untuk Indonesia lima tahun kedepan!

Mereka berteriak dengan pelantang suara
Melontar janji-janji pusaka
Rakyat diminta berkumpul
Demi lembaran merah agar kompor mengebul

Kini kembali terdengar
Ingar bingar dari Aceh hingga Papua
Pun dari Selatan sampai Utara

Aku masih menyimak dari balik layar kaca
Menikmati penyampaian pewarta cantik di balik meja
Aksi Demonstrasi, rupanya!
Bendera, karton, spanduk, dibawa ke jalan raya
Puluhan tuntutan dilayangkan hingga ke singgasana penguasa

Reformasi dikorupsi!
KPK dilemahkan!
Ibu Pertiwi nelangsa!
Indonesia sedang tidak baik-baik saja!

Mereka berteriak dengan pelantang suara
Menuntut janji-janji dusta
Namun pemimpin kita tak muncul
Memilih bungkam dengan perasaan masygul

Dan aku tetap menyimak dari balik layar kaca
Dengan rokok di bibir dan kopi di atas meja
Hidup itu dibawa santai saja, serupa para wakil kita di balik meja elit dan kursi empuknya
Merdeka!

Bandar Lampung, 18 Oktober 2019
Sofia Octaviana

Friday, April 10, 2020

Aku Lelah

Kumandang azan maghrib bergema dari masjid di dekat lingkungan kostku. Kubuka kunci kamar kost, meletakkan tas, membersihkan diri, lantas segera melaksanakan shalat maghrib pada waktu lebih dua puluh menit dari saat azan dikumandangkan.

Ayat suci mulai kulantunkan tatkala menyelesaikan shalat. Baru beberapa halaman tuntas dibaca, azan isya sudah datang memanggil kembali.
Lantas kutegakkan tubuh dan melaksanakan shalat sesuai waktunya.

Usai, aku bergegas keluar kamar dan mengetuk pintu kamar di sampingku. Seperti biasa setelah terdengar kunci dibuka, aku dengan cepat menghambur tanpa memedulikan si empunya yang masih asyik bermesra dengan sang sahabat: Al-Qur'an.

Tak lama ia menyelesaikan bacaanya, lantas menoleh ke arahku. "Pulang jam berapa tadi?" tanyanya, bergerak melipat mukena.

"Pas maghrib tadi nyampe." Kurebahkan tubuhku pada kasur berlapis seprai biru muda di kamarnya.

"Gimana tilawah hari ini?" sambarnya lagi. Pertanyaan rutin yang akan selalu kudengar setiap hari.

"Belum selesai, baru dapet empat lembar tadi." Belum ada setengahnya dari targetku menyelesaikan satu juz per hari.

Ia menatapku. "Nggak berniat dilanjutin?" tanyanya--lebih tepatnya kutanggapi sebagai perintah.

"Capek, Di. Besok aja subuh sekalian dirapel," kilahku sekenanya. "Lagian abis ini aku mau nyelesain tugas dulu, mikirin proposal yang belum rampung dan harus selesai lusa, belum lagi konsepan acara ini, rundown acara itu..." Dan berentetan agenda lainnya keluar dari mulutku.

"Mutabaahmu hari ini gimana?" tanyanya lagi.

Aku menggeleng, menatapnya lesu, "banyak yang bolong."

"Tapi kesibukan di organisasimu kelar semua?"

Untuk kedua kalinya aku menggeleng.

Ia kemudian ikut merebahkan diri di sampingku. "Kenapa nggak dikerjain sekarang? Kalau cuma dipikirin kan nggak akan selesai."

"Aku capek, Di. Kadang aku mikir mau ngelepas semua tanggung jawab ini." Kutolehkan kepala, mendapati Dinara yang terdiam menatap langit-langit kamarnya.

"Lagian kalau kamu mundur, kamu yakin bisa menyelesaikan semua kewajiban dengan tenang?"

"Ya pasti," balasku yakin. "Kan nanti aku nggak bakal kepikiran rapat ini-itu, nggak kepikiran proposal LPJ dan sebagainya. Aku bisa lebih fokus kuliah, fokus belajar, lebih banyak tilawah, nambah hafalan."

"Tapi aku ngga seyakin itu, Ra." Ia beralih menatapku singkat, kemudian kembali mengarahkan wajahnya pada langit-langit kamar. "Karena yang aku pelajari, waktu luang itu lebih berbahaya daripada waktu sibuk kita. Di tengah banyaknya waktu luang, semakin mudah setan membisiki kita untuk bermalas-malasan, kan? Kamu masih yakin bisa menyelesaikan semua kewajiban kamu kalau dilanda rasa malas?"

"Tapi kan aku pasti bisa memanajemen waktu, Di. Aku bisa..."

Belum genap aku menyelesaikan ucapanku, Dinara sudah memotong dengan kalimat-kalimat panjangnya. "Justru di situ poinnya, Ra. Bagaimana kamu bisa memanajemen waktu dengan baik. Kalau kamu bisa mengatur waktumu tanpa membiarkan waktu luang terselip sedikit pun di antaranya, kamu pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan mudah, sesibuk apa pun kamu. Lagipula kalau ngikutin keinginan kamu tadi, masa kamu mundur dari amanah? Selama ini kamu buat LPJ kegiatan itu mah nggak ada apa-apanya, gimana kamu ngasih LPJ untuk-Nya kalau kamu mundur?"

Aku lantas mengikuti Dinara untuk menatap langit-langit kamarnya. Dan sepersekian detik menerawang lebih jauh melebihi batas di atas sana.

"Ra, percaya sama aku, kamu justru bisa menyelesaikan semua kesibukanmu dengan mudah ketika kesibukanmu dengan Allah terjaga. Bukan sebaliknya," tambahnya.

"Gitu ya, Di?" Aku menatapnya seakan mendapat sesuatu yang baru.

"Coba aja dulu," tandasnya.

Kemudian aku berpamitan keluar, kembali ke kamar, menyelesaikan target tilawah, lantas menyelesaikan tugas kuliah untuk besok yang belum sama sekali kusentuh.

Di dalam pikiran ini sudah ada list-list kegiatan yang akan kulakukan selanjutnya secara beruntutan. Dan bertekad bahwa esok aku akan menumpahkan list-list itu di atas kertas; membagi dan menentukan hal yang dijadikan prioritas.

***

Aku tahu, Dinara bisa seyakin itu karena  ia sudah menjalankan sebelumnya.
Aku tahu, Dinara yang begitu sibuk dengan padatnya aktivitas selalu mengutamakan kewajiban terhadap Rabb-Nya.
Aku tahu, Dinara bisa menyelesaikan semua tanggungjawab dengan tenang dan teratur tanpa keluar sedikit pun keluhan dari mulutnya.

Aku tahu, dan aku malu.

Malu karena selalu sok sibuk dengan urusan dunia, lantas berdalih untuk menjauh dari-Nya.
Malu karena menjalankan tanggung jawab sedikit saja, namun kerap kali berucap lelah.
Malu ... pada Dinara.

-20 Agustus 2017-

***

Tulisan ini pernah saya post di line. Namun karena satu dan lain hal, tidak saya publikasikan lagi di media yang sama. Kini kumpulan-kumpulan tulisan itu akan saya share di blog sebelum terhapus dari memori penyimpanan di handphone.

Selamat membaca. Semoga ada yang bisa dipetik dari untaian kalimatnya.
Teruslah berbahagia!

Wednesday, April 8, 2020

Iya, Ini Aku Sekarang

"Dia alim ya sekarang."
"Iya tuh, kerudungnya gede-gede gitu."
"Nggak asik dia sekarang, diajak apa-apa nggak mau. Dikit-dikit kajian, dikit-dikit ke masjid."
"Iya padahal dulu suka pake jeans."
"Padahal dulu sering ngegosip bareng kita."
"Padahal dulu..."
"Padahal dulu..."

***

Aku duduk terdiam di sudut masjid, membiarkan mushaf di depanku terbuka tanpa sekejap pun dibaca. Ingatanku kembali berputar menayangkan kejadian beberapa hari terakhir di mana hampir semua teman-teman terdekatku memandang heran, bahkan beberapa dari mereka menganggap diri ini sebagai lelucon yang asyik sekali ditertawakan.

"Sejak kapan kamu jadi ustadzah, Ra?"
"Eh, Ra mimpi apa semalem?"
"Awas kalau turun tangga rok nya keserimpet."

Dan mereka pun dengan puasnya tertawa di depanku yang hanya bisa membalas dengan senyuman tipis--meski ada nyeri tak tertahankan di hati.

"Kenapa, Ra?" Sebuah suara familier membuatku tersentak. Segera kuhapus buliran bening yang tiba-tiba menetes dari sudut mata dengan ujung jari.

"Eh, Mba Hasna. Lagi nggak ada kuliah, Mba?" tanyaku kikuk.

"Iya lagi kosong, nanti jam satu ada kuliah lagi," ucapnya lembut. "Pertanyaan Mba nggak mau dijawab apa?"

"Oh, nggak apa-apa kok, Mba." Aku tersenyum salah tingkah. Meski aku tahu Mba Hasna tidak akan pernah puas dengan jawaban 'nggak apa-apa'.

"Ada apa? Cerita aja sama Mba."

Aku mendongak, menatap sorot mata teduh seorang bidadari yang kini duduk di depanku. Wajahnya meneduhkan, senyum yang terkembang di bibirnya menyiratkan ketulusan. Dan aku tak mungkin berpaling demi mendengarkan nasihat-nasihat lembut yang terlontar dari mulutnya.

"Hijrah itu susah ya, Mba," ujarku lirih.

"Nggak ada yang susah, Dek. Selama kamu meniatkan karena Allah, semuanya akan dimudahkan."

"Tapi nggak ada yang ngedukung aku, Mba. Temen-temenku malah banyak yang ngeledek. Memang sih mereka cuma bercanda, tapi kan tetep aja kata-kata mereka bikin sakit hati, Mba." Memang aku tahu ini terdengar berlebihan. Tapi aku tidak dapat memaksakan diri dan selalu berusaha merasa baik-baik saja.

Mba Hasna seketika merengkuhku ke dalam dekapannya. Ia menepuk-nepuk punggungku pelan. "Dek, hijrah itu mudah, semudah kamu memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik, maka banyak yang akan membantumu belajar. Anggap aja saat ini cuma tantangan untuk hijrah kamu, ibarat ujian; kamu harus melewatinya agar lulus, kalau enggak kamu harus mengulang dari awal. Dan tentunya ujian itu akan selalu ada tingkatannya, mungkin ini belum seberapa, kita nggak tahu kan bakal ada ujian serumit apa lagi yang menunggu di depan sana."

Aku terhanyut dan membiarkan air mataku membanjiri kerudung abu-abu yang dikenakannya.

"Hijrah itu mudah dek, yang susah istiqomah. Kalau kamu sukses menghadapi tantangan saat ini, berarti kamu berhasil untuk istiqomah pada tahap ini," lanjutnya.

"Tapi mereka suka ngebanding-bandingin aku yang dulu begini, aku dulu begitu. Kan aku malu, Mba."

Ia tersenyum dan mengangkat bahuku. "Kalau masih ada yang bilang kayak gitu ke kamu senyumin aja dan jawab 'Iya, ini aku sekarang', toh itu masa lalu kan. Adalah pilihan yang benar ketika kamu tahu itu salah dan berusaha mengubahnya. Yang salah itu ketika kamu tau itu salah, tapi kamu tetap menjalankannya."

Kuanggukkan kepalaku singkat dan kembali memeluk Mba Hasna.

"Udah hapus air matanya, malu malah diliat orang nangis-nangisan gini."

Seketika aku menatap sekeliling dan menyadari di masjid ini tidak hanya kami berdua. Segera kuhapus air mata yang sudah merambat sampai menjalari hidung; aku yakin hidungku sudah memerah kali ini. Tiba-tiba aku merutuki diri yang terlalu berlebihan dalam menghadapi sesuatu.

"Tetep semangat berproses. Istiqomah shalihah," ujarnya diiringi senyum.

***

"Ra, nanti beli tiket bareng, yuk. Katanya Super Junior mau ke Indonesia." Rini terlihat bersemangat sekali mengajakku suatu waktu.

"Aduh aku mau ikut kajian nanti, kamu kajian sama aku aja, nggak usah beli tiketnya hehe."

"Ngapain sih, pengajian itu kerjaannya ibu-ibu. Ngebosenin lagi, bikin ngantuk. Dulu padahal kamu suka nonton A pergi ke tempat B, ngelakuin ini itu sama kayak aku. Sekarang dikit-dikit kajian, apa-apa ngga boleh. Nggak seru!"

Aku tersenyum, "iya itu dulu, dan ini aku sekarang."

Seketika ia melengos pergi.

-19 Agustus 2017-
(Terinspirasi dari kajian Ust. Dr. Khalid Basalamah MA.)

***

Tulisan ini pernah saya post di line. Namun karena satu dan lain hal, tidak saya publikasikan lagi di media yang sama. Kini kumpulan-kumpulan tulisan itu akan saya share di blog sebelum terhapus dari memori penyimpanan di handphone.

Selamat membaca. Semoga ada yang bisa dipetik dari untaian kalimatnya.
Teruslah berbahagia!


Tuesday, April 7, 2020

Mau Jadi Apa?

Stasiun kereta terlihat lengang dalam waktu-waktu seperti ini. Kuedarkan pandangan dan memilih duduk di bangku panjang sementara menunggu waktu kereta datang, sekitar lima belas menit lagi sesuai jadwal.

Aku memberhentikan aktivitas mengutak-atik handphone setelah menyadari bapak-bapak di samping menegurku.

"Mau ke mana, Dek?" tanyanya.

Kulirik wajahnya sekilas, ragu-ragu untuk menjawab. Namun kemudian kubalas juga pertanyaannya dengan sopan--sekadar menghargai, pikirku.

"Kuliah ya?"

Aku refleks mengangguk samar, lantas kusadari bahwa bapak di sampingku tak akan menyadari bahwa aku sedang mengangguk. "Iya, Pak," balasku akhirnya.

"Ngambil jurusan apa?" tanyanya lagi, kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan membakar ujungnya.

"Sastra Indonesia, Pak."

"Oh, kalau sastra begitu bakal kerja apa nanti?" Ia menghembuskan asap rokok ke udara.

"Hehe, tergantung nanti kedepannya gimana," jawabku ogah-ogahan. Lagipula aku sudah sering menerima pertanyaan seperti ini dan terlanjur bosan membahasnya.

"Ya bukan tergantung-tergantung gitu. Maksud saya kan kayak jurusan lain misalnya pendidikan jadi guru, terus ada kedokteran, hukum, kan jelas tujuannya."

Aku berusaha menampilkan senyum ke arahnya, "kalau dari sastra bisa jadi penulis, Pak. Atau editor penerbitan, atau bahkan kita yang ngebuat penerbitan sendiri," ujarku mantap.

Lalu ia terkekeh ringan, beberapa kali menghembuskan asap rokoknya lagi ke udara--yang sebenarnya membuatku terganggu.

"Anak-anak sekarang itu suka gitu, cuma suka ngikutin kemauannya aja dan nggak sadar sama orang tua yang banting tulang ngebiayain sekolah mereka," ucapnya tiba-tiba. Ia kemudian mengangkat kaki kanan dan melipatnya hingga ujung kakinya berada di atas lutut--persis seperti di warung kopi. "Kayak mereka yang ngambil jurusan gambar-gambar itu apa namanya, nggak mikirin kedepannya gimana, cuma karena suka aja sama jurusan itu. Padahal lulusan jurusan yang pasti-pasti aja belum tentu jadi orang. Sekarang daftar PNS itu susah, kita mah nggak ada apa-apanya sama ribuan orang yang daftar PNS juga," lanjutnya skeptis.

Sejujurnya kupingku terasa panas mendengarnya, berharap kereta segera tiba dan aku bisa bergegas pergi tanpa memedulikan bapak itu lagi. Namun sayangnya lima belas menit terasa sangat lama.

"Kayak keponakan saya, lulusan pendidikan udah jadi guru dia sekarang. Anak saya juga yang kedua saya masukin ke STM aja biar kalau lulus bisa langsung kerja, minimal bisa buka bengkel sendiri, lah."

Aku makin kesal mendengarnya. Kalau saja ia bukan bapak-bapak, ingin rasanya kubalas habis-habisan ucapannya barusan.

"Semua jurusan itu bagus kok, Pak. Kan tergantung dari kita sendiri gimana ngejalaninnya, dan setiap orang punya jalan sukses masing-masing nggak harus jadi Pegawai Negeri," sambarku cepat. Aku berusaha menjawab dengan suara senormal mungkin meski hati ini ingin meledak-ledak rasanya.

"Zaman sekarang nyari kerjaan itu susah, Dek. Buktinya banyak sarjana yang jadi pengangguran, ujung-ujungnya kerjanya sama aja sama orang yang nggak sekolah tinggi." Ia menyulut lagi rokoknya. "Lagian nggak usahlah nyari jurusan aneh-aneh, yang jurusan pasti-pasti aja belum tentu 'jadi'."

Untungnya, dengungan suara kereta api sudah terdengar. Aku bergegas menggamit ransel lantas berdiri. "Mari, Pak saya duluan, keretanya sudah datang," ujarku berusaha sesopan mungkin lantas beranjak menuju peron.

Dari balik kaca jendela, kudapati bapak itu masih terdiam di sana dan semakin asik menghabiskan puntung rokoknya. Untuk kemudian aku beralih dan enggan menoleh ke arahnya lagi.

***

Sejatinya, setiap jurusan di semua universitas memiliki kelebihan masing-masing. Terlepas itu universitas terbaik atau bukan, jurusan favorit atau tidak, semua memiliki kelebihan sesuai keahliannya.

Pun sama, semua pekerjaan di dunia memiliki kelebihan masing-masing. Terlepas terlihat hebat atau tidak, bergaji besar atau kecil, semua memiliki kelebihan sesuai porsinya.

Dan lagi, apapun jurusan yang kita ambil sekarang, tetap berpegang pada prinsip bahwa kita yang akan menjalani kehidupan kita sendiri. Tak peduli meskipun jurusan kita tidak 'menjamin' bagi orang lain, atau bahkan sudah banyak lulusan-lulusan dari jurusan yang sama dengan kita sehingga menyebabkan semakin banyaknya pengangguran yang tercipta. Kita masih tetap memiliki alasan untuk berada di dalamnya, menjadi yang terbaik di sana, lantas membangun kesuksesan sesuai versi kita sendiri.

Seperti mengutip tulisan Tere Liye "Jadilah pekerja yang kreatif untuk kemudian bicara: besok lusa saya akan menginspirasi siapa, mengubah apa, atau bahkan menciptakan apa lagi nantinya."

-18 Agustus 2017-

***

Tulisan ini pernah saya post di line. Namun karena satu dan lain hal, tidak saya publikasikan lagi di media yang sama. Kini kumpulan-kumpulan tulisan itu akan saya share di blog sebelum terhapus dari memori penyimpanan di handphone.

Selamat membaca. Semoga ada yang bisa dipetik dari untaian kalimatnya.
Teruslah berbahagia!

Sunday, January 26, 2020

Memerdekakan Pola Pikir

"Merdeka itu ketika kita bebas memiliki mimpi dan berusaha merealisasikannya."
[17 Agustus 2016]

Tepat satu tahun lamanya kata-kata itu terukir jelas pada tempatnya, sebuah buku kecil yang saat ini sedang kubuka. Aku kembali menyibak lembar demi lembar kertas lusuh penuh tulisan yang sudah sobek di sana-sini.

"Ngapain, Ra? Buka buku-buku lama?" Dinara melangkah masuk, mengambil dengan asal salah satu buku yang tergeletak di lantai kamar kostku.

"Eh, enggak. Cuma liat-liat tulisanku satu tahun lalu. Ternyata aku pernah mikirin hal-hal kayak gini, ya." Aku terkekeh ringan, mengulang kembali ingatan akan semua peristiwa yang kutuangkan dalam kata-kata, meski hanya menampilkan beberapa kalimat.

"Memangnya kenapa?"

"Negara kita udah merdeka, ya. Udah lama," jawabku seraya menyodorkan buku kecil yang baru saja kubaca.

Dinara mengernyit bingung, diraihnya buku dari tanganku, "terus kenapa?"

"Tapi sayangnya pola pikir kita belum merdeka.  Belum sama sekali," lanjutku.

Raut kebingungan kembali terpancar dari wajahnya, seolah menyiratkan 'aku ngga ngerti dengan apa yang kamu omongin.' Namun ia hanya diam, tak membalas apa-apa.

"Pemikiran kita selama ini selalu terkungkung oleh suatu sistem yang bilang: kita ngga bahagia kalau nggak sukses, nggak kaya raya; kita ngga sukses kalau ngga kerja di tempat hebat, bergaji tinggi; kita ngga hebat kalau nggak jadi lulusan terbaik, masuk kampus/jurusan favorit; ngga pinter kalau nilai-nilai eksak kita kecil; ngga terkenal kalau nggak eksis di medsos; ngga keren kalau ngga berorganisasi, dan sebagainya.
Dan kalau kita masih mengoleksi semua 'nggak-nggak' itu seolah kita nggak bisa bahagia, jadi seakan-akan syarat bahagia itu ribet banget gitu ya."

Dinara menganggung-angguk sambil meletakkan buku di pangkuannya. Lantas menatapku lamat-lamat. "Ra, kamu yakin orang-orang berpikir hal yang sama kayak kamu?"

"Bisa jadi," balasku cepat.

"Tapi aku enggak gitu, tuh. Bagiku bahagia itu sederhana. Sesederhana kita bisa bersyukur, lantas kita bahagia. Karena kehidupan itu tergantung dengan apa yang kita pikirkan, kan? Dan kita diberi kebebasan untuk menjalankannnya dengan versi terbaik menurut kita sendiri, asal nggak bertentangan dengan ketetapan Allah tentunya." Iya tersenyum. "Atau jangan-jangan cuma kamu yang belum merdeka karena kamu masih mencatut versi kesuksesan dan kebahagian orang lain?"

Aku terdiam. Tiba-tiba seperti ada petir yang menyambar tepat di jantungku, telak sekali.

Barangkali Dinara benar, hanya aku saja yang mencatat definisi bahagia dengan berlebihan, dan tanpa disadari akulah yang masih dijajah pemikirannya oleh orang lain.
Dinara benar, dan dia memang selalu benar.
Aku tertunduk, malu pada diri sendiri. Untuk kemudian menatap wajah teduh di hadapanku kini. "Di, aku harus banyak belajar dari kamu," ujarku lirih.

Ia hanya tersenyum menampilkan pancaran teduh pada wajahnya. Dinara yang tidak muluk-muluk meminta ini itu pada kehidupan, namun selalu bahagia.

"Kita sama-sama belajar, Rania," balasnya seraya mendekapku hangat.

***

Kisah harian Rania dan Dinara yang pertama kali ditulis tepat pada perayaan Hari Ulang Tahun Indonesia ke-72.

Tulisan ini pernah saya post di line. Namun karena satu dan lain hal, tidak saya publikasikan lagi di media yang sama. Kini kumpulan-kumpulan tulisan itu akan saya share di blog sebelum terhapus dari memori penyimpanan di handphone.

Selamat membaca. Semoga ada yang bisa dipetik dari untaian kalimatnya.
Teruslah berbahagia!

Wednesday, January 8, 2020

7:44 AM - , No comments

Rumput Tetangga Terlihat Lebih Hijau



Pernahkah kita membandingkan pencapaian diri dengan orang lain?

Saat melihat lini masa, misalnya. Teman SMA yang dulu terlihat biasa-biasa saja, sekarang sudah melanglang buana menapaki sudut-sudut dunia, mengabadikan diri di depan monumen-monumen megah lantas membagikannya di media sosial pribadi; terlihat bahagia.

Belum lagi teman sekelas saat di bangku menengah pertama. Tampak gagah lengkap dengan jas rapi, duduk nyaman di ruang ber-AC seraya berkutat dengan berkas-berkas penting; sibuk sekali setiap harinya. Dan kita menatap kagum akan kesuksesannya.

Atau lain lagi; teman lama yang dulu berkepang dua dengan hiasan rambut merah muda, kini sudah terlihat sangat dewasa. Kerap kali membagikan momen bahagia bersama keluarga kecilnya. Tak pernah alpa mengabadikan perkembangan putri kecil yang tengah tertatih melangkah satu dua.

Lantas kita melihat diri sendiri, merasa minder karena tidak sesukses dan sebahagia mereka, terlebih pilihan yang kita ambil tidak se-elit yang lainnya dalam pandangan kacamata sosial.

Padahal, hidup ini sejatinya berjalan atas pilihan yang kita ambil sendiri, atas prinsip yang kita yakini dan tentunya dengan konsekuensi yang harus kita hadapi.

Tak perlu lagi ada keluhan “rumput tetangga terlihat lebih hijau”. Karena sejatinya, kita tak perlu membandingkan rumput di halaman kita dengan halaman tetangga. Untuk apa? Toh, kenyamanan akan indahnya halaman rumah kita, kita sendiri yang merasakan. Untuk apa berlomba menghijaukan rumput jika kita lebih nyaman menanaminya dengan bunga beraneka warna?

Maka kembali lagi, hidup kita didasarkan pada pilihan yang kita ambil. Kita yang tahu kekurangan dan kelebihan dalam diri, kita yang paham akan tujuan yang harus dicapai, kita yang bisa mengatur tenggat waktu dalam perjalanan; kapan harus berhenti, kapan harus berlari.

Sehingga tak perlu lagi membandingkan pencapaian diri dengan orang lain.
Untuk apa? Toh, bahagia itu kita sendiri yang cipta.

Oh ya satu lagi, rumus bahagia sebenarnya sederhana: sesederhana bersyukur. Maka sebenarnya, penyelesaian dari permasalahan di atas sederhana: ketika kita bersyukur dan menerima keadaan halaman kita sebagaimana adanya, maka tak akan pernah terpikir untuk membandingkannya dengan rumput tetangga.

Salam cinta!
Jangan lupa bersyukur dan bahagia.

7:33 AM - , No comments

Penakluk Segara




Terik baskara memantul hamparan biru, mendekap bahtera dalam pelayaran jauhnya dari bijana; melintas dua benua.

Tak tampak sepucuk karang. Hanya buih ombak yang bergumul di buritan.
Tak tampak nyiur melambai, pasir pantai. Hanya kepak layar yang ditampar angin.
Gulita di malam dingin.

Dalam bilangan hari berikutnya; badai mengintai.
Tak lagi hembus angin meniup layar terkembang, tak lagi debur ombak mengantar kapal bergerak, tak lagi mimpi menaklukkan segara terpatri dalam benak.
Hanya doa tertuntun pada lirihnya nyanyian malam, berpilin menembus langit dalam rintih nan fasih.

Tersebab waktu; menanti karam.
Pun tersebab waktu; membasuh harap akan rindu bersauh.

Di laut. Besar peluang dijemput maut.
Niscaya kau merendahkan diri sebagai abdi, dan Tuhan berbaik hati, usah risau akan kabar diri. Takdir hidup sudah dillayarkan sampai ke tepi.

Bandar Lampung, 18 November 2019
Sofia Octaviana
***

Puisi ini terpilih menjadi salah satu kontributor dalam event yang diadakan oleh Tidar Media. Dan dimuat dalam Kumpulan Antologi Puisi Terbaik dengan judul "Gamelan, Gending Masa Lalu"

Wednesday, November 27, 2019

Review Novel Sunset & Rosie (Tere Liye)



Judul               : Sunset & Rosie (sebelumnya Sunset bersama Rosie)
Penulis            : Tere Liye
Penerbit          : Mahaka Publishing
Halaman         : 426 halaman

---BLURB---

Sebenarnya, apakah itu perasaan? Keinginan? Rasa memiliki? Rasa sakit, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, kerinduan, kebencian? Bukankah dengan berlalunya waktu semuanya seperti gelas kosong yang berdebu, begitu-begitu saja, tidak istimewa. Malah lucu serta gemas saat dikenang.
Sebenarnya, apakah pengorbanan memiliki harga dan batasan? Atau priceless, tidak terbeli dengan uang, karena hanya kita lakukan untuk sesuatu yang amat spesial di waktu yang juga spesial? Atau boleh jadi gratis, karena kita lakukan saja, dan selalu menyenangkan untuk dilakukan berkali-kali.
Sebenarnya, apakah itu arti 'kesempatan'? Apakah itu makna 'keputusan'?
Bagaimana mungkin kita terkadang menyesal karena sebuah 'keputusan' atas sepucuk 'kesempatan'? Sebenarnya, siapakah yang selalu pantas kita sayangi?

Dalam hidup ini, ada banyak sekali pertanyaan tentang perasaan yang tidak pernah terjawab. Sayangnya, novel ini juga tidak bisa memberikan jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan itu. Novel ini ditulis untuk menyediakan pengertian yang berbeda, melalui sebuah kisah di pantai yang elok. Semoga setelah membacanya, kita akan memiliki satu ruang kecil yang baru di hati, mari kita sebut dengan kamar 'pemahaman yang baru'.

***

“Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya. Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.”

Kata-kata di atas mungkin tak asing bagi penikmat karya Tere Liye. Bagaimana tidak, kalimat itu sering kali diposting oleh penulis pada official akun Facebooknya dan bahkan banyak dipost oleh orang-orang di media sosial masing-masing sebagai quotes kala gundah gulana.

Tapi saya tidak akan membedah isi kata-kata itu. Saya hanya akan menceritakan novel dimana asal muasal kata-kata indah itu tercipta. Sunset bersama Rosie yang belakangan ini setelah sekian kali cetak ulang mengalami perubahan judul menjadi Sunset dan Rosie.

Kisah ini bercerita tentang Tegar, yang tidak berani mengambil kesempatan untuk menyatakan perasaan kepada sahabat kecilnya: Rosie. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, tetangga terpaut lima rumah di daerah asal mereka; Gili Trawangan, salah satu anak pulau di gugusan utara pulau Lombok. Hingga pada suatu ketika—dua puluh tahun setelahnya—saat mereka sedang menempuh pendidikan di Kota Bandung, Tegar mengenalkan Rosie pada Nathan. Dan dari sinilah kisah pahit itu dimulai. Kala itu Tegar mengajak Rosie dan Nathan mendaki Gunung Rinjani dengan maksud menyatakan perasaan pada Rosie. Namun kenyataan berkata lain tatkala Nathan lebih dulu mengambil kesempatan—dengan lebih berani menyatakan perasaannya pada Rosie yang baru dikenalnya selama dua bulan terakhir—mendahului Tegar. Dua puluh tahun milik Tegar setara dengan dua bulan milik Nathan.

Setelahnya, Tegar memutuskan pergi, menghilang dari kehidupan Rosie dan Nathan. Pergi bermil-mil jauhnya dari Gili Trawangan, memutuskan untuk melanjutkan hidup di Jakarta. Menghabiskan lima tahun dengan malam-malam sesak, helaan napas panjang. Sampai pada suatu waktu Rosie dan Nathan datang menemui Tegar, membawa serta dua putri kecilnya kala itu, Anggrek dan Sakura. Dua kuntum bunga yang perlahan menjadi obat bagi Tegar untuk berdamai dengan masa lalu, melihat sesuatu dengan pemahaman baru.

Bertahun-tahun setelahnya hubungan baik di antara mereka kembali tercipta. Tegar makin mencintai keluarga itu, terutama keempat anak Rosie dan Nathan; Anggrek, Sakura, Jasmine dan si kecil Lili. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Hingga takdir berkata lain. Tragedi Bom Bali menghancurkan seluruh kebahagiaan, merenggut Nathan dari sisi mereka semua, membuat Rosie depresi berkepanjangan hingga harus di rawat di tempat pemulihan.

Namun dari sinilah semua kisah itu bermula. Karena sejatinya novel ini tidak hanya berkisah tentang cinta dan romansa. Lebih dari itu, novel ini berusaha mengajarkan kita untuk menghadapi sesuatu dari sudut pandang berbeda. Belajar dari sifat luar biasa Tegar dalam banyak hal, berjuang mendidik anak-anak, bersabar dan berusaha terlihat luar biasa di setiap keadaan. Belum lagi belajar dari Anggrek, seiring berjalannya waktu memperkenalkannya akan bentuk tanggung jawab dan kebijaksanaan, belajar dari Sakura yang tabah menerima keadaan dan tetap ceria, belajar dari Jasmine yang memiliki hati tulus sempurna, selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang baiknya, dan Lili dengan kepolosannya melihat dunia.

Dari novel ini, kita diajarkan untuk melihat pemahaman baru tentang cinta. Seperti cinta yang diberikan Tegar pada anak-anak, juga cinta yang berusaha ditumbuhkan Tegar pada Sekar. Namun yang paling utama dan ditekankan dalam novel ini adalah agar kita berani untuk membuat kesempatan, tidak hanya menitipkannya pada guratan takdir, mempercayai sepenuhnya akan janji kehidupan, untuk kemudian menyesal berkepanjangan. Serta satu hal yang menjadi point utama adalah seperti yang tertera pada kalimat akhir sinopsis di belakang buku, agar kita memiliki satu ruang kecil di hati yang disebut kamar ‘pemahaman baru’.

***

Novel ini merupakan buku ke sekian milik Tere Liye yang selesai saya baca. Agak telat memang, mengingat novel ini sudah diterbitkan sejak tahun 2011 silam. Namun baru-baru ini saya berkesempatan untuk memegang bukunya, itupun berbekal dari pinjaman adik saya di perpustakaan sekolah.

Secara keseluruhan, saya tetap menyukai karya Tere Liye bagaimana pun bentuknya. Seperti yang ada di kisah ini misalnya, meski point utamanya berkembang berdasarkan kisah romance, namun masih banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa kita dapatkan dari halaman demi halaman yang kita baca. Gaya penulisan Tere Liye juga memiliki keunikan tersendiri yang sejak dulu menjadi ciri khasnya, dan tidak berubah hingga sekarang. Bahkan, meski banyak kata-kata berulang yang dituliskan di novel, tidak membuat pembaca bosan untuk menyelesaikannya. Namun ada satu hal yang kurang menurut saya dari novel ini; endingnya terkesan terlalu memaksakan dan jika dibandingkan dengan kehidupan nyata, rasanya seolah tidak real. Yah namanya juga kisah fiksi~

Mungkin itu sedikit yang bisa saya ceritakan. Selebihnya kalian bisa membaca sendiri dan menangkap pemahaman baru yang disampaikan penulis melalui kisah apik ini.

Salam cinta.
Teruslah berbahagia!

Friday, January 18, 2019

Ganti Laptop Baru tanpa Pikir Dua Kali






Momen liburan adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa/mahasiswi yang sedang aktif berkuliah. Bagaimana tidak, waktu seperti ini adalah saat-saat dimana kamu memiliki banyak waktu luang untuk berkumpul bersama keluarga, membebaskan diri dari deadline dosen, terlebih bisa mengerjakan banyak hal tanpa lambaian-lambaian tugas yang menunggu untuk diselesaikan.

Apalagi bagi mahasiswi rantauan seperti saya, yang hanya bisa memanfaatkan waktu-waktu libur untuk pulang ke rumah. Rasanya bisa menjejakkan kaki di rumah pun sudah menjadi alasan untuk menepikan sejenak keinginan liburan seperti yang biasanya diposting teman-teman di media sosial. Sekadar ‘pulang ke rumah’, merasakan suasananya, membersamai kehangatannya, itu sudah lebih dari cukup.

Eits … tapi tunggu dulu. Bukan berarti ketika kita hanya liburan di rumah, itu merupakan hal yang membosankan. Justru banyak hal-hal produktif yang bisa kita lakukan ketika sejenak menepi dari kesibukan dunia.

Seperti misalnya yang saya lakukan ketika menjelang waktu liburan tiba. Saya akan segera berburu info lomba menulis lalu mencatatnya sesuai dengan urutan deadline, kemudian mengeksekusi satu per satu. Justru kalau dipikir-pikir, momen liburan akhir tahun adalah waktu yang produktif bagi saya karena bisa menghasilkan banyak karya. Terlebih kalau liburan di rumah, segudang inspirasi tiba-tiba akan bermunculan di kepala.

Berbicara tentang karya, saya terkadang masih mengingat-ingat kejadian beberapa bulan lalu. Saat di mana karya yang saya torehkan satu persatu lenyap begitu saja dalam sekejap mata. Ya, Bulan Oktober tahun lalu tepat pada peringatan hari ulang tahun saya, sebuah kejadian tak terlupa terjadi begitu saja. Saya kehilangan laptop kesayangan yang sudah menemani sejak kelas 3 SMP di selasar ruang tunggu kampus. Begitu saja. Padahal saya sudah mengazzamkan dalam hati, meskipun nantinya saya mampu membeli laptop terbaik sekali pun, laptop itu tidak akan terganti, tidak berniat saya jual atau diberikan kepada orang lain. Biarkan dia menemani sampai tidak mampu hidup lagi hahaha. Namun takdir berkata lain, laptop itu berpindah tangan dan lenyap tanpa jejak.

Saya akui itu memang kecerobohan saya, dengan polosnya meninggalkan begitu saja laptop kesayangan di kursi tunggu jurusan. Saat itu yang terpikir adalah akan ada malaikat baik yang menemukan laptop saya dan mengembalikan di tempat semula, atau menghubungi saya, atau apa pun hal tak terduga lainnya. Tapi saya tetap meyakini kalau laptop itu akan kembali di tangan si empunya.

Berhari-hari saya mencari, menunggu dan berharap. Hingga waktu yang menyadarkan kalau laptop itu tidak akan kembali. Okelah mungkin belum rezeki. Atau mungkin dengan adanya kejadian ini saya diminta untuk lebih bersyukur lagi.

Namun hal yang paling membuat saya uring-uringan adalah sebuah folder draft tulisan yang sudah bertahta di sana bertahun-tahun lamanya. Okelah medianya hilang, tapi kan semua ide yang ada di dalamnya tidak semudah diundo lantas ditulis ulang.

Di tengah kegalauan akan hal itu, akhirnya malaikat baik datang menjadi penolong. Adik saya dengan polosnya berkata bahwa dia masih menyimpan folder tulisan saya di laptop Asus miliknya. Waktu itu saya agak bingung karena saya merasa tidak pernah mengcopy folder itu di laptop lain. Namun jawaban mengejutkan yang keluar dari mulutnya adalah “Iya, sebenernya nggak niat ngopy. Iseng aja karena pengen baca cerita Uwo tapi nggamau ketauan. Jadi sekalian kucopy sefolder-foldernya.” Kala itu saya memang pernah berniat menggarap projek tapi alurnya belum saya ceritakan ke dia dan belum membolehkan dia membacanya. Untungnya kegiatan illegalnya itu menyelamatkan salah satu kepingan hidup saya. Hahaha.

Mulai dari kejadian itu, saya akhirnya masih menggunakan laptop Asus milik adik saya hingga saat ini, dengan dalih sarana mengerakan tugas kuliah, dan tentunya sebagai media untuk berkarya. 


Namun karena itu, saya yang dulunya memiliki prinsip #LaptopKesayanganHargaMati mulai berganti prinsip #2019GantiLaptop. Bagaimana tidak, laptop bagaikan nyawa bagi seorang penulis. Tanpanya, akumah apa….

Ngomong-ngomong soal laptop, banyak perbedaan yang saya rasakan menggunakan laptop brand Asus, dibandingkan laptop lama saya (meskipun ini laptop pinjaman). Dari segi kualitas, banyak keunggulan, hingga mudah dibawa kemana-mana. Dan ada satu seri laptop Asus yang hingga saat ini masih menjadi impian saya dan impian banyak orang lainnya, yaitu Asus ZenBook UX391UA. Di antara keunggulannya adalah:

1.    Thin and Light

Bagi orang-orang yang suka membawa laptop kemana-mana, seri laptop ini menjadi salah satu pilihan terbaik. Untuk ukuran laptop, Asus ZenBook UX391UA ini hanya memiliki berat 1 kg dengan ketebalan hanya 12.9 mm. Dengan ukuran laptop seringan itu, kita bisa membawa laptop dan banyak buku kuliah dalam satu tas tanpa khawatir keberatan. Jadi tidak ada alasan lagi bagi saya lupa meletakkan laptop karena si laptopnya harus dibawa menggunakan tas jinjing dengan dalih berat dan terlalu tebal kalau dibawa dengan satu tas bersamaan dengan buku kuliah.


2. Hinge
Satu lagi kelebihan dari Asus ZenBook UX391UA ini yang tidak dimiliki merk lain, yaitu bagian keyboard memiliki engsel yang dapat bergerak miring sejauh 5.5° dari tempatnya diletakkan, hal ini mengakibatkan laptop memiliki sudut pembukaan maksimum hingga 145°. Tentu ini sangat membantu sekali, apalagi saya yang dulu suka mengalami keluhan bahwa laptop sering panas. Dan kalau kadar panas sudah mencapai batas maksimum, bisa mati tiba-tiba (maklum laptop tua, butuh #2019PakaiZenBook).

Dengan keunggulan keyboard seperti ini, dapat dipastikan bahwa pendingin dapat bekerja lebih efisien karena memungkinkan lebih banyak aliran udara di bagian bawah sasis.

3. Design
Sudah tidak diragukan lagi kalau design yang diusung merk ini sangan mewah dan elegan. Dengan skema warna Dive Blue dan Rose Gold ditambah lampu latar keyboard yang berwarna emas serta lid sewarna, bukan lagi menjadi alasan laptop ini tidak memikat bahkan saat pandangan pertama.

4.    Performance
Dengan prosesor intel core i7 dilengkapi RAM sebesar 16GB seolah menjadi hak istimewa bagi mereka yang gemar bermain game, pegiat coding, maupun mereka yang gemar editing video tanpa khawatir laptop ngelag atau hasil yang tidak memuaskan. Asus ZenBook UX391UA sudah memberikan performa luar biasa yang tak diragukan keunggulannya.


Itu beberapa di antara keunggulan Asus ZenBook UX391UA dari sekian banyak keunggulan yang tidak bisa saya sebutkan semua (karena saking banyaknya). Oke berdasarkan pertimbangan ini tidak lagi diragukan bahwa #2019GantiLaptop dan #2019PakaiZenBook. Terimakasih buat kamu yang sudah menemukan dan mengamankan laptop saya, sehingga saya bisa membuka hati untuk mencari penggantinya yang baru.

Untuk laptopku, di manapun kamu, semoga betah dengan sahabatmu yang baru, ya. Semoga dia menyayangimu dengan tulus dan tidak suka memperlakukanmu semena-mena seperti yang pernah kulakukan padamu dulu.

Ah sudah…
Salam Karya
Jangan lupa bersyukur!

***

Edit: hasil tulisan untuk ikut event blog. Mau dihapus tapi sayang.